Postingan

Rumpun Bahasa Austronesia Sepanjang Khatulistiwa

Gambar
Bahasa daerah di sepanjang garis khatulistiwa di Asia bersumber dari persebaran orang Austronesia, moyang dari penduduk  masa kini   di benua maritim ini. Bahasa daerah di Indonesia berakar dari rumpun Bahasa Austronesia yang masuk dan menyebar di negeri ini 8.000 sampai 6.000 tahun silam seiring dengan migrasi ras ini dari arah utara (Taiwan) memasuki kepulauan di sekeliling khatulistiwa. Rumpun bahasa ini lalu mengalami adaptasi sesuai tempat berkembangnya, dan persamaan kata-kata berbagai bahasa daerah yang membentang dari Madagaskar, Indonesia hingga Polinesia, dapat menjadi contohnya. Hal ini tampak pada Bahasa Batak termasuk lima variannya (Karo, Angkola, Toba, Pakpak dan Dairi). Rumah makan Tambar Lihe, yang dalam Bahasa Batak Karo berarti “obat lapar” memiliki padanan dalam bahasa lain yang juga serumpun dari Austronesia. Kata “obat” atau tambar (Karo) = tamba (Jawa, Sunda) atau ubek (Minang); dan “lapar” atau lihe (Karo) = luwe (Jawa), lapar (Sund...

Kesengsem Lasem: Catatan Sejarah Sebuah Kota Kecil

Gambar
Saya berkesimpulan, jika belum ke Lasem —sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah— kita belum lengkap mengenal keragaman b udaya Indonesia. Mulai Sunan Bonang hingga Tan Ke Wie, dari perdagangan candu hingga penjualan kayu jati ( Tectona grandii ), mulai wastra semacam batik ( leran ) hingga kuliner hibrida seperti lontong tuyuhan , maka Lasem adalah gambaran keindonesiaan yang penuh asimilasi. Entah kenapa, ungkapan «kesengsem Lasem» atau «terkesima dengan Lasem» cukuplah tepat.  Lasem adalah bagian Rembang, yang secara geografis merupakan kawasan memanjang di pantai utara Pulau Jawa. Rembang sendiri merupakan endapan alluvial dari berbagai lapukan hasil letusan gunung berapi di tengah-tengah Pulau Jawa. Sepanjang garis pantai ini kita menemukan jejak peradaban sejak masa purba, klasik, kolonial hingga masa kini. Artefak orang Austronesia dari masa prasejarah ada di Lasem, dan dari cara penguburan serta tradisi memangkur gigi-geligi, diduga usia peradabannya...

Kopi di Tengah Pasar Glodok Jakarta

Gambar
Sejak tahun 1970-an warung ini menempati lapak di tengah pasar yang menjadi nadi Perdagangan kaum Tionghwa di Jakarta. Kopi yang dibesut keluarga Liong di Warung Tak Kie ini diramu (dan populer) sejak pertengahan 1970-an, meskipun kedai ini sudah dibuka sejak 1927. Lokasinya di tengah-tengah pecinan di Jakarta Utara. Pecinan adalah kawasan yang ditetapkan Pemerintah Hindia Belanda sesuai wijkstelsel (1843) yang memisahkan pemukiman berdasarkan ras. Sajiannya hanya dua jenis: kopi biasa (hitam) dan kopi dengan susu (kental manis). Sajian kopi andalan di Tak Kie adalah memakai es. Untuk rasa: b oleh dibilang enak. Konon, resep kopi ini racikan Ayauw, cucu dari Liong Kwie Tjong —dari perantau Tiongkok yang membuka Tak Kie. Awalnya kedai ini hanyalah sebuah warung di kawasan petak sembilan (sebuah blok dalam Pecinan). Adalah anak dari Liong Kwie Tjong yang memindahkan kedainya ke Gang Gloria saat ini.  Sebagai warung, boleh jadi perdagangan minuman penyegar di Tak Kie dipicu ...

Kopi dalam Cangkir Bergambar Gadis Berhias Mutiara

Gambar
Kolonialisme abad ke 16 sampai 19 telah membawa minuman penyegar semacam kopi ke meja orang Eropa. Negeri Belanda menangguk banyak keuntungan dari kolonialisme dan kini tetap menjadi peminum kopi terbesar di dunia. Kejayaan perdagangan dengan Asia Tenggara pada abad ke 18 membuat Belanda menjadi kekuatan ekonomi dunia. Seorang pedagang bernama Egbert Douwes memanfaatkan momentum ini. Ia mendirikan sebuah toko bernama De Witte Os (Kerbau Putih) di Joure, Friesland yang ada di bagian utara Belanda pada 1752. Toko itu menjual kopi, teh dan tembakau. Ketiganya adalah produk stimulan yang digemari orang Belanda seiring terbukanya perdagangan hasil bumi dari kawasan tropis. Kongsi bernama Ve reenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang berdiri pada 1602 di Belanda adalah multinasional yang saat itu memasok berbagai kebutuhan tadi. Belakangan De Witte Os berubah nama beberapa kali, dan akhirnya memakai nama Douwe Egbert sebagai merk. Lambangnya adalah inisial “DE” berwarna putih dalam li...

Gunung Budheg: Penjaga Kabupaten Tulungagung

Gambar
Manusia membangun pemukiman dengan memperhatikan berbagai aspek geografi di sekelilingnya sejak zaman purba. Nenek moyang kita menempati gua-gua yang strategis letaknya, membangun desa di tepian air, dekat lahan yang subur, atau di atas perbukitan untuk melindungi diri dari ancaman musuh. Pemahaman ini juga terbawa tatkala manusia membangun pusat-pusat pemerintahan: manusia di Jawa misalnya, acapkali membangun pemukiman dengan pemahaman yang melampaui kodrati. Gunung dan laut, menjadi titik-titik geografi yang dihubungkan secara strategis untuk memantapkan keseimbangan kosmis.  Demikian pula di Tulungagung, sebuah kabupaten di sisi Selatan Provinsi Jawa Timur. Hampir delapan kilometer di selatan ibukota Tulungagung terdapat Gunung Budheg –sebuah bukit batu dengan puncak sekitar 530 meter di atas permukaan laut. Entah sengaja atau tidak, titik pusat ibukota Tulungagung yang ditandai alun-alun berada segaris lurus dengan puncak Gunung Budheg ini. Gunung Budhe...

Naniura: Kuliner Tanah Batak

Gambar
Menu khas ikan mentah dari Tanah Batak. Bergetar lantaran aneka rempah. Naniura adalah salahsatu versi ikan segar yang dimakan mentah di dunia. Menu ini hanya dikenal orang Batak (Toba). Resepnya relatif sederhana: ikan mas (Cyprinus) yang hidup dibelah dan dilepas tulangnya sehingga menjadi semacam fillet .  Daging ini lalu dituang ramuan rempah berbahan dasar asam/cuka. Daging ikan segar ini tak dimasak, hanya didiamkan beberapa saat untuk membiarkan ramuan rempah tadi meresap.  Sederhana tampaknya. Justru yang “kaya” adalah rempah yang dipakai: s elain andaliman ( Zanthoxylum acanthopodium ), kemiri ( Aleurites moluccanus ), ketumbar ( Coriandrum sativum ), serai ( Cymbopogon citratus ) dan asam gelugur atau kala ( Garcinia atroviridis ), ditambahkan juga kecombrang ( Etlingera elatior ) dan air asam dari cuka atau jeruk limau.  Semua rempah ini adalah kekayaan dataran tinggi Toba yang memang tak mudah diperoleh secara bersama-sama di tempat lain. ...

Sejarah Minum Beralkohol di Indonesia

Gambar
Minuman beralkohol di Indonesia memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan peradaban di Negeri ini. Bentuk paling dasar minuman beralkohol di Indonesia adalah sadapan dari cairan tumbuhan (soma), yang lazim diambil dari pepohonan genus Palmae. Cairan ini didiamkan atau diolah lebih lanjut sehingga meningkat kadar etil-alkoholnya akibat peragian-sendiri di dalam cairan itu sehingga memberi rasa nikmat/segar ketika dikonsumsi. Tumbuhan Palmae yang lazim disadap cairannya adalah aren ( Arenga pinnata   Merr), nipah ( Nypa fruticans ) dan siwalan ( Borassus flabellifer ). Sadapan dari aren, nipah maupun siwalan mengandung gula sederhana (sakarosa) 1-2% yang mudah mengalami peragian apabila dibiarkan dalam suhu ruang. Kebiasaan meminum nira ( soma ) ini diduga sudah setua migrasi suku-bangsa Maleanesia yang datang ke Indonesia lebih dari 10.000 tahun sebelum Masehi. Meminum sadapan ini juga berkaitan dengan kebiasaan mengunyah pinang (atau   piru ...