Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rekayasa Keairan

Air yang Memakmurkan Kerajaan

Gambar
Akhirnya, Raden Mas Said memperoleh yang diinginkan. Tatkala ia membubuhkan namanya pada Perjanjian Salatiga, 17 Maret 1757, Hamengkubuwono I dan Pakubuwono III harus merelakan sebagian wilayah kekuasaannya untuk diberikan kepada Said.  Said memperoleh sebagian kekuasaan atas sisa Kesultanan Mataram yang sebelumnya dibagi kedua saudaranya itu. Perjanjian Salatiga adalah babak akhir keruntuhan Kesultanan Mataram yang bertikai sejak Sultan Agung Hanyokrokusumo wafat pada 1645. Jawa adalah medan pertikaian kerabat dekat dalam naungan garis Dinasti Mataram. Daerah yang diberikan kepada Said mencakup Kabupaten Karanganyar dan Wonogiri, serta Ngawen, di Yogyakarta. Sisa-sisa Kesultanan Mataram pun resmi dibagi menjadi tiga. Perjanjian itu juga mengangkat Said sebagai Pangeran Miji yang berkedudukan setara raja, meskipun tak boleh memiliki tahta (dampar kencana) dan lambang kerajaan seperti pohon beringin (Ficus benjamin) kembar di halaman istana. Ia ditahbiskan sebagai Kanjeng Gusti Pang...

Prasasti dari Kayu Jati di Bendungan Serbaguna Wonogiri

Gambar
Sebuah pesan penuh inspirasi terpasang di ruang tamu kantor pengelola Bendungan Serbaguna Wonogiri di Jawa Tengah. Tulisan pada panil kayu jati ini berbunyi … Membangun bendungan serbaguna adalah suatu pekerjaan yang menyangkut kehidupan masyarakat yang luas. Pada phase pelaksanaan sebagian masyarakat merasa dirugikan dan baru setelah bendungan berfungsi masyarakat luas akan mengenyam nikmat manfaatnya. Maka kita wajib menjalankan tugas suci ini sebaik-baiknya serta sejujur-jujurnya dan mengusahakan penyelesaian secepat-cepatnya agar manfaatnya segera dapat kita rasakan bersama. Wonogiri, 10 Oktober 1977, tertanda Ir. Hartoto Pesan ini memiliki makna mendalam. Penulisnya pasti terlibat dalam pembangunan Bendungan Serbaguna Wonogiri, sebuah infrastruktur pengairan yang besar dibangun pada masa Orde Baru memimpin Indonesia. Bendungan ini direstui pembangunannya pada 1 Juli 1976 oleh Presiden RI Soeharto. Berselang setahun kemudian, pesan ini ditulis pada prasasti kayu ini menjadi peringa...

Bawang Merah, Ternak Itik dan Irigasi Songgom

Gambar
Kabupaten Brebes di Jawa Tengah tak bisa dipisahkan dari beberapa produk andalannya: beras, bawang merah dan telur itik.  Dalam perjalanan dari Brebes menuju Tegal, bila melewati Ajibarang dan Songgom tak akan lepas pandangan kita dengan dataran subur dan dipenuhi lahan pertanian. Inilah tempat dari mana padi, bawang merah dan telur itik dihasilkan. Sejak awal abad ke 20, usaha tani di Brebes telah berkembang akibat adanya irigasi. Usai memanen padi, para petani memelihara itik yang memakan serasah organik di sawah. Itik-itik ini menikmati sisa-sisa organik tanaman padi.  Telur itik kemudian dipanen. Lebih lanjut, di sela-sela menanam padi, para petani mulai menanam bawang merah memanfaatkan ketersediaan irigasi sepanjang musim .  Demikianlah Brebes bertiwikrama dalam urusan telur itik dan bawang merah. Gambar 1: Bawang merah dan irigasi Gambar 2: Saluran irigasi utama di Songgom Gambar 3: Bangunan terjunan dan pembagi irigasi di Songgom (dulu dan kini) Saluran irigasi da...

Rawa Pening di Ambarawa

Gambar
Pemandangan dari bukit menggambarkan keindahan alami dari Cekungan Ambarawa. Berjumpa kembali dengan Rawapening setelah sekian lama tak bersua. Rawa seluas hampir 27 km-persegi ini (2018) adalah bagian dari sebuah dataran bernama Cekungan Ambarawa. Alkisah, Bemmelen (1949) menyakini Rawapening berada pada suatu patahan purba di Jawa. Cekungan Ambarawa di mana Rawapening berada diapit kompleks berapi Gunung Ungaran, Soropati/Telomoyo, Merbabu dan Merapi. Pada masa kini hanya Merapi yang masih aktif. Legenda setempat menyebut Rawapening ini timbul karena menyemburnya air dari sebatang lidi yang dicabut Bagus Klinting, anak dari Endang Sawitri dan Ki Hajar Salokantara yang berwujud seekor naga. Kisah rakyat ini tentu tak bersesuaian dengan fakta geologis. Secara geologis, Rawapening adalah bagian dari sebuah danau purba akibat longsornya kubah Gunung Soropati/Telomoyo, sehingga terbendungnya aliran permukaan di daerah ini. Keruntuhan kubah gunung ini juga menyebabkan sedimentasi selama ra...

Silaturahmi ke Pintu Air Kuro

Gambar
Siang itu di tengah terik matahari, kendaraan yang saya tumpangi beringsut meniti jalan kampung yang sempit di pinggiran Kabupaten Lamongan. Penanggalan menunjukkan Senin Wage 3 Mei 2021 M bertepatan dengan 21 Ramadhan 1442 H. Sebelah kanan dari jalan yang saya titi, mengalir Sungai Blawi, salahsatu anak dari Bengawan Solo yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Saya bersama rombongan berada di bagian hilir sungai ini, tak terlalu jauh dari muara ke Laut Jawa. Tepat di sebuah kelokan, pada ujung jalan penghabisan di tepi kampung, rombongan berhenti dan tepat di depan saya terdapat Pintu Air Kuro. Inilah bangunan pengendali banjir paling hilir di Bengawan Solo. Bangunan yang mengingatkan kita akan kapsul di mana waktu terhenti. Pintu ini dibangun pada 1902, untuk mengurangi genangan di sebuah area di tepi Bengawan Solo yang rutin terendam air karena lebih rendah dari sekitarnya. Pintu ini mengatur agar Sungai Blawi yang mengeringkan daerah tergenang ini dapat mengalir ke Bengawa...

Ximen Bao Menghapus Pesta Dewa Sungai

Gambar
Ximen Bao, atau yang dikenal sebagai Hakim Bao dalam film mini seri tahun 2000-an silam di televisi Indonesia, adalah seorang pejabat nyata dari Negara Bagian Wei di Tiongkok Utara, sekarang disebut Provinsi Henan. Ia hidup sekitar abad ke 5 sebelum Masehi. Ia sebenarnya  bukan  hakim, namun pejabat tinggi negara yang berlatarbelakang teknik. Salahsatu karyanya yang terkenal adalah saluran yang mengalihkan aliran Sungai Zhang sehingga alirannya dapat dimanfaatkan. Sebagai pejabat politik, kebijakan Ximen Bao ( 西门 豹 )  terkenal dan ketegasannya  menentang ketidakadilan menjadi buah cerita pada berbagai zaman. Salahsatu kisah Hakim Bao adalah ketika ia melawan tahayul dan koalisi antara pejabat dengan para penyihir yang gemar menakuti rakyat. Setelah diangkat Kaisar, Hakim Bao datang ke Negara Bagian Wei (juga dibaca Ye,  鄴城 ) dan mengadakan rapat dengan pejabat setempat. Mereka memberitahu, ada kegiatan rutin bernama pernikaha...

Kebudayaan dan Pengembangan Sumber Daya Air

Gambar
Pengelolaan air selalu menjadi aspek integral dari pembentukan kebudayaan. Saya mengutip pemikiran Terje Tvedt (2010) yang menyebut adanya tiga lapisan pengetahuan ketika kita membahas air sebagai suatu sistem dalam kehidupan manusia. Lapisan pertama: air dalam wujud ragawi, di mana perilakunya berhubungan dengan kehidupan manusia. Dalam hal ini kita berhubungan dengan bentuk alamiah dari air (hujan, penguapan, debit limpasan dan lain sebagainya). Ilmu hidrologi dan hidrolika yang mempelajari daur air di alam beserta proses pengalirannya berada pada lapisan pengetahuan ini. Dalam batasan ini air menentukan manfaat dan dampak terhadap peradaban. Lapisan kedua: adalah perubahan, intervensi atau tindakan yang dilakukan manusia terhadap air di alam. Baik itu pembangunan bendungan, saluran irigasi, embung atau apapun yang dapat mengatur/mengubah kondisi alamiah dari air.  Melalui intervensi semacam ini, manusia membuat pilihan-pilihan ekonomi dan politik. Salah satu contoh terbesa...

Pantai Sadeng: Muara dari Bengawan Solo pada Zaman Purba

Gambar
Seandainya bagian selatan Pulau Jawa tidak terangkat oleh kekuatan alam berjuta tahun lalu, maka almarhum Gesang – pencipta lagu keroncong terkenal berjudul Bengawan Solo – tidak akan pernah menulis syair lagunya seperti yang kita kenal sekarang. Alkisah, sungai terpanjang di Jawa ini dulunya tidak mengalir jauh ke utara seperti yang disyairkan Ges ang, malah mengalir ke selatan, langsung bermuara ke Laut Selatan. Alur bekas sungai Bengawan Solo dari zaman purba di Kecamatan Girisubo Kabupaten Gunungkidul, DIY. Ihwalnya adalah pertemuan dari dua tubir lempeng tektonis – yang kita sebut dalam literatur geologi sebagai Lempeng Asia dan Australia. Tumbukan ini menyebabkan Lempeng Australia menghunjam ke bawah Pulau Jawa, mengakibatkan pulau ini pun perlahan-lahan terangkat di bagian selatan. Peristiwa pengangkatan yang terjadi sekitar 4 juta tahun silam ini, telah merubah wajah Pulau Jawa. Sungai-sungai besar di Jawa, berubah mengalir ke utara karena di sebelah selatan tumbuh...

Banjir Dahsyat di Surakarta pada 24 Februari 1861

Gambar
Plakat penanda banjir (warna putih) terletak di sebelah kanan gerbang. Terjemahan dari Bahasa Belanda: (posisi) tertinggi air pada 24 Februari 1861 Tinggi plakat dari lantai dasar gerbang adalah 2 meter lebih. Tampak proporsional dari Gerbang Benteng Vastenburg di Surakarta Tidak banyak orang mau mengenang bencana. Sesuatu yang traumatis tentu tidak menyenangkan untuk diingat. Namun, catatan akan bencana juga penting sebab membawa kebijakan dalam membaca alam. Selain banjir besar yang pernah tercatat merendam Surakarta pada 13-14 Maret 1966, ternyata masih ada sebuah banjir lain yang lebih dahsyat menenggelamkan kota ini. Bekas banjir ini direkam pada gerbang Benteng Vastenburg. Benteng Vastenburg adalah  peninggalan Belanda yang terletak di kawasan Gladak, Surakarta. Benteng ini dibangun pada 1745 atas perintah Gubernur Jenderal Baron von Imhoff dan merupakan bagian dari pengawasan Belanda terhadap penguasa Surakarta...