Postingan

Corona Virus dari Wuhan hingga Zaman Kalathida dari Ranggawarsita

Gambar
Kehidupan manusia tak bisa dipisahkan dari bencana, sebagaimana tidak ada peradaban yang bebas dari wabah penyakit. Demikian pula tidak ada penyakit yang menjadi wabah dengan sendirinya, sama seperti bencana senantiasa merupakan resultan dari berbagai penyebab yang bergabung secara tak sengaja ( coincidence ) maupun terencana ( default ). Kita secara bersama-sama menyaksikan wabah corona virus dari Wuhan (2019-nCov) merebak sejak akhir Desember 2019 dan menyebabkan radang paru-paru (pneumonia) akut di Tiongkok dan telah berpindah ke lebih dari 16 negara hingga saat ini. Laporan berbagai sumber memastikan sekitar 7.700 orang terkonfirmasi terjangkiti penyakit ini (29/01/2020). Sebanyak 259 orang diantaranya meninggal. Angka itu menunjukkan 2019-nCov tingkat fatalitasnya rendah (3,3%).   Evakuasi pasien terinfeksi 2019-nCov di Hubei, Tiongkok (29/01/2020) Angka kematian ini di bawah tingkat fatalitas serangan virus serupa pada 2002-2004 yang diberi nama Severe Acute Respir...

Arca Ganesha di Karangkates: Pertarungan Kebijakan Pengetahuan dan Keliaran Manusia

Gambar
Inilah satu-satunya arca di Indonesia yang menggambarkan Ganesha  dalam posisi berdiri   dengan membawa banyak lambang Tantra Bhairawa yang merupakan aliran pemujaan keliaran manusia. Saya pertama kali bertemu arca Ganesha yang kontroversial ini    sekitar lima tahun silam, di tempatnya  bersemayam, yakni di belakang kompleks perumahan Bendungan Karangkates di Kabupaten Malang. Pertemuan itu terjadi pada suatu siang menjelang tengah hari, ketika surya bersinar terik, dan saya berdiri beberapa langkah di depan patung  yang menggambarkan putra dari Dewa Siwa dengan Dewi Parwati, dan  dipanggil “Mbah Gajah” oleh masyarakat setempat. Ada dua hal yang menarik perhatian saya. Pertama, Ganesha dipatungkan dalam keadaan berdiri, sementara sekian banyak penggambaran beliau, senantiasa digambarkan dalam keadaan duduk. Kedua, "Mbah Gajah" ini dipenuhi berbagai hiasan dari tengkorak manusia yang memberi kesan menakutkan. Arca Ganesha itu secara ke...

Didik Mangkuprodjo, Tarzan sampai Kwartet S: Hadiah dari Malang untuk Indonesia

Gambar
Humor adalah sebuah sumber energi. Melalui humor, manusia dapat tertawa, melepas ketegangan dan meringankan beban jiwa. Maka, tertawa sebenarnya adalah unsur yang sangat manusiawi. Penelitian antropogenik menunjukkan primata semacam kera dan monyet bisa mengekspresikan rasa senang, tetapi mereka tidak bisa tertawa. Oleh karena itu, bekerja sebagai pelawak, yang tugas utamanya membuat orang tertawa, adalah pekerjaan yang mulia. Sebagai bagian dari Republik Indonesia, ternyata Malang juga menyumbangkan banyak pelawak untuk menghibur dan mengusir kemuraman hidup dari rakyat negeri ini. Sebutlah beberapa nama penting, seperti Didik Mangkuprodjo (1938-2019), Tarzan alias Toto Muryadi (1946), Nurbuat (1949-2016), Eko DJ alias Eko Koeswoyo (1952-2017), Topan alias Muhammad Sugianto (1956), Leysus alias Sugeng Winarso (1959-2006) dan tak ketinggalan grup lawak terkenal Kwartet S. Kwartet S didirikan oleh Djatikusumo (kelahiran 1945) mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, ...

Dari Micky Jaguar sampai Sylvia Saartje

Gambar
Pemusik dari Malang pernah mewarnai jagad hiburan Indonesia dengan talenta mereka yang diasah di berbagai pentas. Sumbangsih kota di dataran tinggi ini cukup berarti untuk musik nasional. Pada tahun 1970 hingga awal 1990-an, Malang pernah disebut sebagai barometer musik Indonesia. Penonton musik kota ini, diakui oleh berbagai grup musik memiliki antusiasme dan sikap kritis. Konon, jika sebuah grup musik berhasil tampil prima dan diterima pentasnya di kota dingin ini, maka kualitas penampilan mereka pasti dapat diterima masyarakat Indonesia. Sebaliknya bila tidak, jangan harap grup itu bertahan. Meskipun pernyataan itu tampak berlebihan, tapi Malang  —s ebagaimana halnya Jawa Timur —  memang wilayah dalam khazanah kesenian yang sangat dinamis.  Beberapa pemusik terkenal bangkit dari kota ini. Mereka pada zamannya mengangkat Malang ke peta musik Nusantara. Jauh sebelum teknologi terbeli, naluri untuk merangkai nada dan membesutnya sampai ke puncak, membu...

Kebudayaan dan Pengembangan Sumber Daya Air

Gambar
Pengelolaan air selalu menjadi aspek integral dari pembentukan kebudayaan. Saya mengutip pemikiran Terje Tvedt (2010) yang menyebut adanya tiga lapisan pengetahuan ketika kita membahas air sebagai suatu sistem dalam kehidupan manusia. Lapisan pertama: air dalam wujud ragawi, di mana perilakunya berhubungan dengan kehidupan manusia. Dalam hal ini kita berhubungan dengan bentuk alamiah dari air (hujan, penguapan, debit limpasan dan lain sebagainya). Ilmu hidrologi dan hidrolika yang mempelajari daur air di alam beserta proses pengalirannya berada pada lapisan pengetahuan ini. Dalam batasan ini air menentukan manfaat dan dampak terhadap peradaban. Lapisan kedua: adalah perubahan, intervensi atau tindakan yang dilakukan manusia terhadap air di alam. Baik itu pembangunan bendungan, saluran irigasi, embung atau apapun yang dapat mengatur/mengubah kondisi alamiah dari air.  Melalui intervensi semacam ini, manusia membuat pilihan-pilihan ekonomi dan politik. Salah satu contoh terbesa...