Postingan

Batu Penanda Paceklik di Sungai

Gambar
Seiring perubahan cuaca di Eropa bagian barat pada tahun 2022 ini, beberapa sungai surut alirannya dan kekeringan mulai melanda. Akibatnya beberapa “batu paceklik” terlihat di sejumlah sungai di Cekoslovakia dan Jerman. Batu-batu alami di sungai ini ditandai goresan (petroglif) yang menunjukkan muka air terendah pernah terjadi. Salah satunya di Sungai Elba di Decin, perbatasan Jerman-Cekoslovakia, berangka tahun 1661 menulis: “Weine, wenn du mich siehst” atau “menangislah jika kau melihatku.” Petroglif ini menyampaikan pesan suram agar generasi mendatang memahami penderitaan (kelaparan) akibat musim panas berkepanjangan tanpa hujan yang merusak pertanian. Beberapa batu mencatat kekeringan dari tahun 1746, 1790, 1841, 1868 dan 1921.

Makam Adam Smith "Bapak Kapitalisme"

Gambar
 “The property which every man has in his own labor is the original foundation of all other property, so it is the most sacred and inviolable.” Hari itu, tak hanya cuaca yang mendung, Eropa dan Amerika Serikat juga dilanda krisis seiring meningkatnya inflasi dan kian asimetrisnya perdagangan produk antar negara.  Alhasil, kemajuan kapitalisme di barat, terinspirasi oleh buku ini. Tetapi, belakangan tesis Adam Smith ini malah mendorong tumbuhnya persekutuan modal dari negara dan pengusaha, yang secara tragis memicu kolonialisme di Asia dan Amerika Selatan. Kalimat dari Adam Smith (1723–1790) filsuf dan pemikir politik terkemuka pada abad ke 18 Masehi, menghiasi sebuah batu andesit yang menjadi penutup makamnya di Edinburgh. Jika diterjemahkan, artinya: “Harta yang dimiliki setiap orang karena usahanya sendiri adalah dasar semua (bentuk) harta, sehingga inilah (hak) paling suci dan tidak dapat diganggu gugat.” Gambar 1: Plakat makam Adam Smith di Cannonball Kirkyard Gambar 2: Ma...

Prasasti dari Kayu Jati di Bendungan Serbaguna Wonogiri

Gambar
Sebuah pesan penuh inspirasi terpasang di ruang tamu kantor pengelola Bendungan Serbaguna Wonogiri di Jawa Tengah. Tulisan pada panil kayu jati ini berbunyi … Membangun bendungan serbaguna adalah suatu pekerjaan yang menyangkut kehidupan masyarakat yang luas. Pada phase pelaksanaan sebagian masyarakat merasa dirugikan dan baru setelah bendungan berfungsi masyarakat luas akan mengenyam nikmat manfaatnya. Maka kita wajib menjalankan tugas suci ini sebaik-baiknya serta sejujur-jujurnya dan mengusahakan penyelesaian secepat-cepatnya agar manfaatnya segera dapat kita rasakan bersama. Wonogiri, 10 Oktober 1977, tertanda Ir. Hartoto Pesan ini memiliki makna mendalam. Penulisnya pasti terlibat dalam pembangunan Bendungan Serbaguna Wonogiri, sebuah infrastruktur pengairan yang besar dibangun pada masa Orde Baru memimpin Indonesia. Bendungan ini direstui pembangunannya pada 1 Juli 1976 oleh Presiden RI Soeharto. Berselang setahun kemudian, pesan ini ditulis pada prasasti kayu ini menjadi peringa...

Bawang Merah, Ternak Itik dan Irigasi Songgom

Gambar
Kabupaten Brebes di Jawa Tengah tak bisa dipisahkan dari beberapa produk andalannya: beras, bawang merah dan telur itik.  Dalam perjalanan dari Brebes menuju Tegal, bila melewati Ajibarang dan Songgom tak akan lepas pandangan kita dengan dataran subur dan dipenuhi lahan pertanian. Inilah tempat dari mana padi, bawang merah dan telur itik dihasilkan. Sejak awal abad ke 20, usaha tani di Brebes telah berkembang akibat adanya irigasi. Usai memanen padi, para petani memelihara itik yang memakan serasah organik di sawah. Itik-itik ini menikmati sisa-sisa organik tanaman padi.  Telur itik kemudian dipanen. Lebih lanjut, di sela-sela menanam padi, para petani mulai menanam bawang merah memanfaatkan ketersediaan irigasi sepanjang musim .  Demikianlah Brebes bertiwikrama dalam urusan telur itik dan bawang merah. Gambar 1: Bawang merah dan irigasi Gambar 2: Saluran irigasi utama di Songgom Gambar 3: Bangunan terjunan dan pembagi irigasi di Songgom (dulu dan kini) Saluran irigasi da...

Rawa Pening di Ambarawa

Gambar
Pemandangan dari bukit menggambarkan keindahan alami dari Cekungan Ambarawa. Berjumpa kembali dengan Rawapening setelah sekian lama tak bersua. Rawa seluas hampir 27 km-persegi ini (2018) adalah bagian dari sebuah dataran bernama Cekungan Ambarawa. Alkisah, Bemmelen (1949) menyakini Rawapening berada pada suatu patahan purba di Jawa. Cekungan Ambarawa di mana Rawapening berada diapit kompleks berapi Gunung Ungaran, Soropati/Telomoyo, Merbabu dan Merapi. Pada masa kini hanya Merapi yang masih aktif. Legenda setempat menyebut Rawapening ini timbul karena menyemburnya air dari sebatang lidi yang dicabut Bagus Klinting, anak dari Endang Sawitri dan Ki Hajar Salokantara yang berwujud seekor naga. Kisah rakyat ini tentu tak bersesuaian dengan fakta geologis. Secara geologis, Rawapening adalah bagian dari sebuah danau purba akibat longsornya kubah Gunung Soropati/Telomoyo, sehingga terbendungnya aliran permukaan di daerah ini. Keruntuhan kubah gunung ini juga menyebabkan sedimentasi selama ra...

Silaturahmi ke Pintu Air Kuro

Gambar
Siang itu di tengah terik matahari, kendaraan yang saya tumpangi beringsut meniti jalan kampung yang sempit di pinggiran Kabupaten Lamongan. Penanggalan menunjukkan Senin Wage 3 Mei 2021 M bertepatan dengan 21 Ramadhan 1442 H. Sebelah kanan dari jalan yang saya titi, mengalir Sungai Blawi, salahsatu anak dari Bengawan Solo yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Saya bersama rombongan berada di bagian hilir sungai ini, tak terlalu jauh dari muara ke Laut Jawa. Tepat di sebuah kelokan, pada ujung jalan penghabisan di tepi kampung, rombongan berhenti dan tepat di depan saya terdapat Pintu Air Kuro. Inilah bangunan pengendali banjir paling hilir di Bengawan Solo. Bangunan yang mengingatkan kita akan kapsul di mana waktu terhenti. Pintu ini dibangun pada 1902, untuk mengurangi genangan di sebuah area di tepi Bengawan Solo yang rutin terendam air karena lebih rendah dari sekitarnya. Pintu ini mengatur agar Sungai Blawi yang mengeringkan daerah tergenang ini dapat mengalir ke Bengawa...

Bung Karno, Marhaen dan Kemandirian Sosial

Gambar
Tidak ada yang tahu dengan sebenarnya, apakah pernah terjadi pertemuan antara Bung Karno dengan petani bernama Marhaen. Jika pun ada, maka selain Tuhan hanya Bung Karno –demikian nama Proklamator Republik Indonesia ini akrab dipanggil– dan petani kecil itu yang mengetahui. Tentu saja banyak pihak mempertanyakan kebenaran pertemuan itu, apakah pertemuan itu hanya rekaan? Tidak ada jawaban pasti. Namun sejauh yang kita ketahui, Bung Karno bertutur dalam buku “Di bawah Bendera Revolusi” mengenai peristiwa ini. Pertemuan ini terjadi di Cigereleng, Bandung Selatan, yang saat itu merupakan kawasan pertanian.  Beliau menemui seorang petani yang menggarap sawahnya dan menanyakan kepemilikan dan hasil dari sawah itu. Jika kita membayangkan tanah Pasundan di sekitar Bandung pada akhir tahun 1920-an dan awal 1930-an, maka Marhaen adalah pelaku pertanian subsisten. Mereka tidak berkuasa atas kapital, selain daripada dirinya sendiri dan alat produksinya. Di tepi sawah, Bung Karno berdiri termen...