Postingan

The Sacred Eels of Waai

Waiselaka Spring in Waai Village is a place where nature and culture flow together. Known for its crystal-clear waters, the spring is home to one of Ambon’s most intriguing residents: the revered freshwater eels, locally called morea . Their presence gives the spring an aura that is at once enchanting, drawing both visitors and locals into its sacred story. Even the village name hints at its intimate connection with water. The word wai or waai in Austronesian, the ancient root of many Indonesian languages, means “water.” It is a fitting name for a community at the Salahutu hills of Ambon Island, where springs shape both the landscape and the lifeways of its people. But Waai’s eels are not just remarkable for their biology. In this village, they are venerated, subtly perceived as sacred ancestors, woven deeply into cultural memory. Unlike their saltwater cousins from the Muraenidae family, found widely across tropical seas, the morea dwell in freshwater, surfacing from the spring’s d...

Bubuksah dan Gagang Aking

Gambar
Kisah dua pertapa yang diuji pencarian makna kehidupannya. Kisah ini adalah bagian dari khazanah spiritual Jawa yang dilukiskan pada panil di beberapa candi, melambangkan esensi di atas dogma. Ada dua pertapa bernama Bubuksah dan Gagang Aking. Keduanya mendapat ujian dari langit dengan turun ke bumi untuk menjalani ujian kehidupan.  Setelah diturunkan ke bumi, Bubuksah mencoba mensyukuri setiap nikmat yang ada. Ia tetap makan dan minum, menikmati keindahan, dan bersuka cita dalam kehidupan sehingga badannya menjadi gemuk dan berisi.  Gagang Aking sebaliknya menempuh jalan berbeda. Ia menjalani laku hidup prihatin dan memilih untuk tak mengumbar selera badani dan hawa nafsu. Akibat kehidupan asketik, tubuhnya pun menjadi kurus, sehingga mirip jerami kering ( gagang aking ). Tiba waktunya menguji pencapaian keduanya melaksanakan tapa. Seekor harimau yang merupakan jelmaan Kalawijaya diutus untuk menguji keduanya. Harimau mendatangi Gagang Aking dan bermaksud memakannya. Namun di...

Air yang Memakmurkan Kerajaan

Gambar
Akhirnya, Raden Mas Said memperoleh yang diinginkan. Tatkala ia membubuhkan namanya pada Perjanjian Salatiga, 17 Maret 1757, Hamengkubuwono I dan Pakubuwono III harus merelakan sebagian wilayah kekuasaannya untuk diberikan kepada Said.  Said memperoleh sebagian kekuasaan atas sisa Kesultanan Mataram yang sebelumnya dibagi kedua saudaranya itu. Perjanjian Salatiga adalah babak akhir keruntuhan Kesultanan Mataram yang bertikai sejak Sultan Agung Hanyokrokusumo wafat pada 1645. Jawa adalah medan pertikaian kerabat dekat dalam naungan garis Dinasti Mataram. Daerah yang diberikan kepada Said mencakup Kabupaten Karanganyar dan Wonogiri, serta Ngawen, di Yogyakarta. Sisa-sisa Kesultanan Mataram pun resmi dibagi menjadi tiga. Perjanjian itu juga mengangkat Said sebagai Pangeran Miji yang berkedudukan setara raja, meskipun tak boleh memiliki tahta (dampar kencana) dan lambang kerajaan seperti pohon beringin (Ficus benjamin) kembar di halaman istana. Ia ditahbiskan sebagai Kanjeng Gusti Pang...

Situs Batu Tangga: Sisa-sisa Punden Berundak

Gambar
Kurang lebih satu jam perjalanan darat dari Bondowoso, terdapat sebuah situs megalitik yang (barangkali) tak banyak dikenal bernama Batu Tangga. Situs ini terletak di Dusun Binong Desa Plalaran Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo. Para pendaki gunung lazim melewatinya, karena jalan di depan situs ini adalah salah satu rute pendakian ke Gunung Argopuro. Letak situs ini sekitar 7 km di bawah pos Hyang Timur Baderan yang dioperasikan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang menjadi titik awal pendakian. Tidak banyak yang diketahui mengenai situs ini. Menilik letaknya sejalan dengan jalur pendakian ke Gunung Argopuro dan keberadaan situs lain yang lebih besar dan penting bernama Rengganis di dekat puncak gunung tersebut, maka patut diduga Batu Tangga ini merupakan bagian dari suatu sistem pemujaan yang dianut nenek moyang. Kunjungan Junghuhn pada tahun 1844, Zollinger (1846) dan Verbeek (1891) ke Gunung Argopuro dan Hyang memberi informasi peninggalan di Rengganis yang memilik...

Percakapan dengan Batu dari Masa Lalu

Gambar
Jawa Timur adalah salah satu dari empat lokasi di Indonesia yang menyimpan kekayaan arkeologis berwujud aneka konfigurasi batu, bersama-sama Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Sulawesi Tengah. Peninggalan ini diwariskan nenek-moyang kita, ketika mereka bergerak menetap di khatulistiwa melalui proses migrasi yang panjang, dimulai hampir satu setengah milinea sebelum Masehi hingga beberapa abad setelah penanggalan Masehi dimulai. Situs megalitik di Jawa Timur tersebar secara relatif memusat di sekitar Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. Peninggalan itu berwujud batu penutup kubur ( dolmen ), batu tegak ( menhir ) dan kubur batu ( sarcophagus ) tersebar di puluhan titik yang secara topografis dapat dihubungkan menjadi garis kontur penanda bahwa komunitas-komunitas penyusun batu ini mengikuti suatu pola perburuan dan perladangan tertentu sesuai ekosistem setempat. Sejumlah peneliti menggunakan pendekatan dari Stein-Callenfels (1934) dan Heine-Geldern (1945) menempatkan peninggalan-peninggal...

Kiai Abisai Ditotruno

Gambar
Kang dumunung ana ing Sastroné Allah kang asipat gesang, yaiku kang ngasto uripku lan uripmu sarta uripé wong sajagad kabeh, kang ora arah ora enggon, kang ora dunung, iya ora dumunung, kang adoh tanpa wangênan, kang cèdhak tanpa sesenggolan, kèsépak ora kèsandung, ora rumangsani, sakjabané rerasan lan sakjroné rerasan.   [Dalam Firman Allah terdapat keselamatan, untuk hidupku dan hidupmu serta hidup semua orang, yang tanpa arah tanpa tempat, yang tidak tahu, tidak akan tahu, jauh namun tidak dirindukan, dekat namun tidak bersentuhan, tertendang namun bukan sandungan, tidak diketahui, baik di dalam maupun di luar perasaan.]  Sore itu, suatu hari Minggu di bulan September 2022, kalimat-kalimat dari ajaran bernama “toya wening” (air bening) seakan terngiang kembali. Saat itu saya berada di Mojowarno, sebuah kecamatan di Kabupaten Jombang yang sejak pertengahan abad ke 19 Masehi telah memiliki beberapa desa dengan populasi orang Jawa beragama Kristen.  Gambar 1: Kondisi maka...

Batu Penanda Paceklik di Sungai

Gambar
Seiring perubahan cuaca di Eropa bagian barat pada tahun 2022 ini, beberapa sungai surut alirannya dan kekeringan mulai melanda. Akibatnya beberapa “batu paceklik” terlihat di sejumlah sungai di Cekoslovakia dan Jerman. Batu-batu alami di sungai ini ditandai goresan (petroglif) yang menunjukkan muka air terendah pernah terjadi. Salah satunya di Sungai Elba di Decin, perbatasan Jerman-Cekoslovakia, berangka tahun 1661 menulis: “Weine, wenn du mich siehst” atau “menangislah jika kau melihatku.” Petroglif ini menyampaikan pesan suram agar generasi mendatang memahami penderitaan (kelaparan) akibat musim panas berkepanjangan tanpa hujan yang merusak pertanian. Beberapa batu mencatat kekeringan dari tahun 1746, 1790, 1841, 1868 dan 1921.

Makam Adam Smith "Bapak Kapitalisme"

Gambar
 “The property which every man has in his own labor is the original foundation of all other property, so it is the most sacred and inviolable.” Hari itu, tak hanya cuaca yang mendung, Eropa dan Amerika Serikat juga dilanda krisis seiring meningkatnya inflasi dan kian asimetrisnya perdagangan produk antar negara.  Alhasil, kemajuan kapitalisme di barat, terinspirasi oleh buku ini. Tetapi, belakangan tesis Adam Smith ini malah mendorong tumbuhnya persekutuan modal dari negara dan pengusaha, yang secara tragis memicu kolonialisme di Asia dan Amerika Selatan. Kalimat dari Adam Smith (1723–1790) filsuf dan pemikir politik terkemuka pada abad ke 18 Masehi, menghiasi sebuah batu andesit yang menjadi penutup makamnya di Edinburgh. Jika diterjemahkan, artinya: “Harta yang dimiliki setiap orang karena usahanya sendiri adalah dasar semua (bentuk) harta, sehingga inilah (hak) paling suci dan tidak dapat diganggu gugat.” Gambar 1: Plakat makam Adam Smith di Cannonball Kirkyard Gambar 2: Ma...

Prasasti dari Kayu Jati di Bendungan Serbaguna Wonogiri

Gambar
Sebuah pesan penuh inspirasi terpasang di ruang tamu kantor pengelola Bendungan Serbaguna Wonogiri di Jawa Tengah. Tulisan pada panil kayu jati ini berbunyi … Membangun bendungan serbaguna adalah suatu pekerjaan yang menyangkut kehidupan masyarakat yang luas. Pada phase pelaksanaan sebagian masyarakat merasa dirugikan dan baru setelah bendungan berfungsi masyarakat luas akan mengenyam nikmat manfaatnya. Maka kita wajib menjalankan tugas suci ini sebaik-baiknya serta sejujur-jujurnya dan mengusahakan penyelesaian secepat-cepatnya agar manfaatnya segera dapat kita rasakan bersama. Wonogiri, 10 Oktober 1977, tertanda Ir. Hartoto Pesan ini memiliki makna mendalam. Penulisnya pasti terlibat dalam pembangunan Bendungan Serbaguna Wonogiri, sebuah infrastruktur pengairan yang besar dibangun pada masa Orde Baru memimpin Indonesia. Bendungan ini direstui pembangunannya pada 1 Juli 1976 oleh Presiden RI Soeharto. Berselang setahun kemudian, pesan ini ditulis pada prasasti kayu ini menjadi peringa...

Bawang Merah, Ternak Itik dan Irigasi Songgom

Gambar
Kabupaten Brebes di Jawa Tengah tak bisa dipisahkan dari beberapa produk andalannya: beras, bawang merah dan telur itik.  Dalam perjalanan dari Brebes menuju Tegal, bila melewati Ajibarang dan Songgom tak akan lepas pandangan kita dengan dataran subur dan dipenuhi lahan pertanian. Inilah tempat dari mana padi, bawang merah dan telur itik dihasilkan. Sejak awal abad ke 20, usaha tani di Brebes telah berkembang akibat adanya irigasi. Usai memanen padi, para petani memelihara itik yang memakan serasah organik di sawah. Itik-itik ini menikmati sisa-sisa organik tanaman padi.  Telur itik kemudian dipanen. Lebih lanjut, di sela-sela menanam padi, para petani mulai menanam bawang merah memanfaatkan ketersediaan irigasi sepanjang musim .  Demikianlah Brebes bertiwikrama dalam urusan telur itik dan bawang merah. Gambar 1: Bawang merah dan irigasi Gambar 2: Saluran irigasi utama di Songgom Gambar 3: Bangunan terjunan dan pembagi irigasi di Songgom (dulu dan kini) Saluran irigasi da...

Rawa Pening di Ambarawa

Gambar
Pemandangan dari bukit menggambarkan keindahan alami dari Cekungan Ambarawa. Berjumpa kembali dengan Rawapening setelah sekian lama tak bersua. Rawa seluas hampir 27 km-persegi ini (2018) adalah bagian dari sebuah dataran bernama Cekungan Ambarawa. Alkisah, Bemmelen (1949) menyakini Rawapening berada pada suatu patahan purba di Jawa. Cekungan Ambarawa di mana Rawapening berada diapit kompleks berapi Gunung Ungaran, Soropati/Telomoyo, Merbabu dan Merapi. Pada masa kini hanya Merapi yang masih aktif. Legenda setempat menyebut Rawapening ini timbul karena menyemburnya air dari sebatang lidi yang dicabut Bagus Klinting, anak dari Endang Sawitri dan Ki Hajar Salokantara yang berwujud seekor naga. Kisah rakyat ini tentu tak bersesuaian dengan fakta geologis. Secara geologis, Rawapening adalah bagian dari sebuah danau purba akibat longsornya kubah Gunung Soropati/Telomoyo, sehingga terbendungnya aliran permukaan di daerah ini. Keruntuhan kubah gunung ini juga menyebabkan sedimentasi selama ra...

Silaturahmi ke Pintu Air Kuro

Gambar
Siang itu di tengah terik matahari, kendaraan yang saya tumpangi beringsut meniti jalan kampung yang sempit di pinggiran Kabupaten Lamongan. Penanggalan menunjukkan Senin Wage 3 Mei 2021 M bertepatan dengan 21 Ramadhan 1442 H. Sebelah kanan dari jalan yang saya titi, mengalir Sungai Blawi, salahsatu anak dari Bengawan Solo yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Saya bersama rombongan berada di bagian hilir sungai ini, tak terlalu jauh dari muara ke Laut Jawa. Tepat di sebuah kelokan, pada ujung jalan penghabisan di tepi kampung, rombongan berhenti dan tepat di depan saya terdapat Pintu Air Kuro. Inilah bangunan pengendali banjir paling hilir di Bengawan Solo. Bangunan yang mengingatkan kita akan kapsul di mana waktu terhenti. Pintu ini dibangun pada 1902, untuk mengurangi genangan di sebuah area di tepi Bengawan Solo yang rutin terendam air karena lebih rendah dari sekitarnya. Pintu ini mengatur agar Sungai Blawi yang mengeringkan daerah tergenang ini dapat mengalir ke Bengawa...

Bung Karno, Marhaen dan Kemandirian Sosial

Gambar
Tidak ada yang tahu dengan sebenarnya, apakah pernah terjadi pertemuan antara Bung Karno dengan petani bernama Marhaen. Jika pun ada, maka selain Tuhan hanya Bung Karno –demikian nama Proklamator Republik Indonesia ini akrab dipanggil– dan petani kecil itu yang mengetahui. Tentu saja banyak pihak mempertanyakan kebenaran pertemuan itu, apakah pertemuan itu hanya rekaan? Tidak ada jawaban pasti. Namun sejauh yang kita ketahui, Bung Karno bertutur dalam buku “Di bawah Bendera Revolusi” mengenai peristiwa ini. Pertemuan ini terjadi di Cigereleng, Bandung Selatan, yang saat itu merupakan kawasan pertanian.  Beliau menemui seorang petani yang menggarap sawahnya dan menanyakan kepemilikan dan hasil dari sawah itu. Jika kita membayangkan tanah Pasundan di sekitar Bandung pada akhir tahun 1920-an dan awal 1930-an, maka Marhaen adalah pelaku pertanian subsisten. Mereka tidak berkuasa atas kapital, selain daripada dirinya sendiri dan alat produksinya. Di tepi sawah, Bung Karno berdiri termen...

Ximen Bao Menghapus Pesta Dewa Sungai

Gambar
Ximen Bao, atau yang dikenal sebagai Hakim Bao dalam film mini seri tahun 2000-an silam di televisi Indonesia, adalah seorang pejabat nyata dari Negara Bagian Wei di Tiongkok Utara, sekarang disebut Provinsi Henan. Ia hidup sekitar abad ke 5 sebelum Masehi. Ia sebenarnya  bukan  hakim, namun pejabat tinggi negara yang berlatarbelakang teknik. Salahsatu karyanya yang terkenal adalah saluran yang mengalihkan aliran Sungai Zhang sehingga alirannya dapat dimanfaatkan. Sebagai pejabat politik, kebijakan Ximen Bao ( 西门 豹 )  terkenal dan ketegasannya  menentang ketidakadilan menjadi buah cerita pada berbagai zaman. Salahsatu kisah Hakim Bao adalah ketika ia melawan tahayul dan koalisi antara pejabat dengan para penyihir yang gemar menakuti rakyat. Setelah diangkat Kaisar, Hakim Bao datang ke Negara Bagian Wei (juga dibaca Ye,  鄴城 ) dan mengadakan rapat dengan pejabat setempat. Mereka memberitahu, ada kegiatan rutin bernama pernikaha...

Permainan Bambu Gila

Gambar
Sebuah atraksi yang berakar pada kepercayaan dinamisme  masyarakat asli Maluku.  Suatu sore pada tahun 1978 di Pantai Natsepa, Suli, Ambon. Untuk menandai dimulainya musim memetik hasil laut dan bumi (buka sasi), diadakan perayaan di tepi pantai. Ibu saya memotret permainan bambu gila dengan kamera manual, memakai film “Sakura” yang pigmen-nya memiliki tint cenderung ke arah warna merah setelah lama disimpan. Sampai saat ini, saya belum menemukan sumber sejarah yang dapat menjelaskan dengan memadai asal-usul atraksi bambu gila. Kendati demikian, diyakini permainan ini telah ada di kepulauan rempah itu sebelum agama samawi (Islam ataupun Kristen) dikenal.  Diduga permainan yang disebut baramasewel ini, berasal dari tradisi dinamisme yang dianut masyarakat Maluku. Permainan ini berpusat pada sepotong bambu, yang uniknya diberi nama bambu suanggi (hantu). Panjangnya sekitar 4 meter, dipotong menjadi tujuh ruas, di mana tiap-tiap potongan ruasnya dipegang o...