Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Didik Mangkuprodjo, Tarzan sampai Kwartet S: Hadiah dari Malang untuk Indonesia

Gambar
Humor adalah sebuah sumber energi. Melalui humor, manusia dapat tertawa, melepas ketegangan dan meringankan beban jiwa. Maka, tertawa sebenarnya adalah unsur yang sangat manusiawi. Penelitian antropogenik menunjukkan primata semacam kera dan monyet bisa mengekspresikan rasa senang, tetapi mereka tidak bisa tertawa. Oleh karena itu, bekerja sebagai pelawak, yang tugas utamanya membuat orang tertawa, adalah pekerjaan yang mulia. Sebagai bagian dari Republik Indonesia, ternyata Malang juga menyumbangkan banyak pelawak untuk menghibur dan mengusir kemuraman hidup dari rakyat negeri ini. Sebutlah beberapa nama penting, seperti Didik Mangkuprodjo (1938-2019), Tarzan alias Toto Muryadi (1946), Nurbuat (1949-2016), Eko DJ alias Eko Koeswoyo (1952-2017), Topan alias Muhammad Sugianto (1956), Leysus alias Sugeng Winarso (1959-2006) dan tak ketinggalan grup lawak terkenal Kwartet S. Kwartet S didirikan oleh Djatikusumo (kelahiran 1945) mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, yang

Dari Micky Jaguar sampai Sylvia Saartje

Gambar
Pemusik dari Malang pernah mewarnai jagad hiburan Indonesia dengan talenta mereka yang diasah di berbagai pentas. Sumbangsih kota di dataran tinggi ini cukup berarti untuk musik nasional. Pada tahun 1970 hingga awal 1990-an, Malang pernah disebut sebagai barometer musik Indonesia. Penonton musik kota ini, diakui oleh berbagai grup musik memiliki antusiasme dan sikap kritis. Konon, jika sebuah grup musik berhasil tampil prima dan diterima pentasnya di kota dingin ini, maka kualitas penampilan mereka pasti dapat diterima masyarakat Indonesia. Sebaliknya bila tidak, jangan harap grup itu bertahan. Meskipun pernyataan itu tampak berlebihan, tapi Malang  —s ebagaimana halnya Jawa Timur —  memang wilayah dalam khazanah kesenian yang sangat dinamis.  Beberapa pemusik terkenal bangkit dari kota ini. Mereka pada zamannya mengangkat Malang ke peta musik Nusantara. Jauh sebelum teknologi terbeli, naluri untuk merangkai nada dan membesutnya sampai ke puncak, membuat mereka dikenal sebagai par

Kebudayaan dan Pengembangan Sumber Daya Air

Gambar
Pengelolaan air selalu menjadi aspek integral dari pembentukan kebudayaan. Saya mengutip pemikiran Terje Tvedt (2010) yang menyebut adanya tiga lapisan pengetahuan ketika kita membahas air sebagai suatu sistem dalam kehidupan manusia. Lapisan pertama: air dalam wujud ragawi, di mana perilakunya berhubungan dengan kehidupan manusia. Dalam hal ini kita berhubungan dengan bentuk alamiah dari air (hujan, penguapan, debit limpasan dan lain sebagainya). Ilmu hidrologi dan hidrolika yang mempelajari daur air di alam beserta proses pengalirannya berada pada lapisan pengetahuan ini. Dalam batasan ini air menentukan manfaat dan dampak terhadap peradaban. Lapisan kedua: adalah perubahan, intervensi atau tindakan yang dilakukan manusia terhadap air di alam. Baik itu pembangunan bendungan, saluran irigasi, embung atau apapun yang dapat mengatur/mengubah kondisi alamiah dari air.  Melalui intervensi semacam ini, manusia membuat pilihan-pilihan ekonomi dan politik. Salah satu contoh terbesar di