Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Rumpun Bahasa Austronesia Sepanjang Khatulistiwa

Gambar
Bahasa daerah di sepanjang garis khatulistiwa di Asia bersumber dari persebaran orang Austronesia, moyang dari penduduk  masa kini   di benua maritim ini. Bahasa daerah di Indonesia berakar dari rumpun Bahasa Austronesia yang masuk dan menyebar di negeri ini 8.000 sampai 6.000 tahun silam seiring dengan migrasi ras ini dari arah utara (Taiwan) memasuki kepulauan di sekeliling khatulistiwa. Rumpun bahasa ini lalu mengalami adaptasi sesuai tempat berkembangnya, dan persamaan kata-kata berbagai bahasa daerah yang membentang dari Madagaskar, Indonesia hingga Polinesia, dapat menjadi contohnya. Hal ini tampak pada Bahasa Batak termasuk lima variannya (Karo, Angkola, Toba, Pakpak dan Dairi). Rumah makan Tambar Lihe, yang dalam Bahasa Batak Karo berarti “obat lapar” memiliki padanan dalam bahasa lain yang juga serumpun dari Austronesia. Kata “obat” atau tambar (Karo) = tamba (Jawa, Sunda) atau ubek (Minang); dan “lapar” atau lihe (Karo) = luwe (Jawa), lapar (Sunda), atau litek (Mi

Kesengsem Lasem: Catatan Sejarah Sebuah Kota Kecil

Gambar
Saya berkesimpulan, jika belum ke Lasem —sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah— kita belum lengkap mengenal keragaman b udaya Indonesia. Mulai Sunan Bonang hingga Tan Ke Wie, dari perdagangan candu hingga penjualan kayu jati ( Tectona grandii ), mulai wastra semacam batik ( leran ) hingga kuliner hibrida seperti lontong tuyuhan , maka Lasem adalah gambaran keindonesiaan yang penuh asimilasi. Entah kenapa, ungkapan «kesengsem Lasem» atau «terkesima dengan Lasem» cukuplah tepat.  Lasem adalah bagian Rembang, yang secara geografis merupakan kawasan memanjang di pantai utara Pulau Jawa. Rembang sendiri merupakan endapan alluvial dari berbagai lapukan hasil letusan gunung berapi di tengah-tengah Pulau Jawa. Sepanjang garis pantai ini kita menemukan jejak peradaban sejak masa purba, klasik, kolonial hingga masa kini. Artefak orang Austronesia dari masa prasejarah ada di Lasem, dan dari cara penguburan serta tradisi memangkur gigi-geligi, diduga usia peradabannya sek

Kopi di Tengah Pasar Glodok Jakarta

Gambar
Sejak tahun 1970-an warung ini menempati lapak di tengah pasar yang menjadi nadi Perdagangan kaum Tionghwa di Jakarta. Kopi yang dibesut keluarga Liong di Warung Tak Kie ini diramu (dan populer) sejak pertengahan 1970-an, meskipun kedai ini sudah dibuka sejak 1927. Lokasinya di tengah-tengah pecinan di Jakarta Utara. Pecinan adalah kawasan yang ditetapkan Pemerintah Hindia Belanda sesuai wijkstelsel (1843) yang memisahkan pemukiman berdasarkan ras. Sajiannya hanya dua jenis: kopi biasa (hitam) dan kopi dengan susu (kental manis). Sajian kopi andalan di Tak Kie adalah memakai es. Untuk rasa: b oleh dibilang enak. Konon, resep kopi ini racikan Ayauw, cucu dari Liong Kwie Tjong —dari perantau Tiongkok yang membuka Tak Kie. Awalnya kedai ini hanyalah sebuah warung di kawasan petak sembilan (sebuah blok dalam Pecinan). Adalah anak dari Liong Kwie Tjong yang memindahkan kedainya ke Gang Gloria saat ini.  Sebagai warung, boleh jadi perdagangan minuman penyegar di Tak Kie dipicu juga