Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Bung Karno, Marhaen dan Kemandirian Sosial

Gambar
Tidak ada yang tahu dengan sebenarnya, apakah pernah terjadi pertemuan antara Bung Karno dengan petani bernama Marhaen. Jika pun ada, maka selain Tuhan hanya Bung Karno –demikian nama Proklamator Republik Indonesia ini akrab dipanggil– dan petani kecil itu yang mengetahui. Tentu saja banyak pihak mempertanyakan kebenaran pertemuan itu, apakah pertemuan itu hanya rekaan? Tidak ada jawaban pasti. Namun sejauh yang kita ketahui, Bung Karno bertutur dalam buku “Di bawah Bendera Revolusi” mengenai peristiwa ini. Pertemuan ini terjadi di Cigereleng, Bandung Selatan, yang saat itu merupakan kawasan pertanian.  Beliau menemui seorang petani yang menggarap sawahnya dan menanyakan kepemilikan dan hasil dari sawah itu. Jika kita membayangkan tanah Pasundan di sekitar Bandung pada akhir tahun 1920-an dan awal 1930-an, maka Marhaen adalah pelaku pertanian subsisten. Mereka tidak berkuasa atas kapital, selain daripada dirinya sendiri dan alat produksinya. Di tepi sawah, Bung Karno berdiri termenung,

Ximen Bao Menghapus Pesta Dewa Sungai

Gambar
Ximen Bao, atau yang dikenal sebagai Hakim Bao dalam film mini seri tahun 2000-an silam di televisi Indonesia, adalah seorang pejabat nyata dari Negara Bagian Wei di Tiongkok Utara, sekarang disebut Provinsi Henan. Ia hidup sekitar abad ke 5 sebelum Masehi. Ia sebenarnya  bukan  hakim, namun pejabat tinggi negara yang berlatarbelakang teknik. Salahsatu karyanya yang terkenal adalah saluran yang mengalihkan aliran Sungai Zhang sehingga alirannya dapat dimanfaatkan. Sebagai pejabat politik, kebijakan Ximen Bao ( 西门 豹 )  terkenal dan ketegasannya  menentang ketidakadilan menjadi buah cerita pada berbagai zaman. Salahsatu kisah Hakim Bao adalah ketika ia melawan tahayul dan koalisi antara pejabat dengan para penyihir yang gemar menakuti rakyat. Setelah diangkat Kaisar, Hakim Bao datang ke Negara Bagian Wei (juga dibaca Ye,  鄴城 ) dan mengadakan rapat dengan pejabat setempat. Mereka memberitahu, ada kegiatan rutin bernama pernikahan Dewa Sungai, yang menjadi sumber kesusahan mere

Permainan Bambu Gila

Gambar
Sebuah atraksi yang berakar pada kepercayaan dinamisme  masyarakat asli Maluku.  Suatu sore pada tahun 1978 di Pantai Natsepa, Suli, Ambon. Untuk menandai dimulainya musim memetik hasil laut dan bumi (buka sasi), diadakan perayaan di tepi pantai. Ibu saya memotret permainan bambu gila dengan kamera manual, memakai film “Sakura” yang pigmen-nya memiliki tint cenderung ke arah warna merah setelah lama disimpan. Sampai saat ini, saya belum menemukan sumber sejarah yang dapat menjelaskan dengan memadai asal-usul atraksi bambu gila. Kendati demikian, diyakini permainan ini telah ada di kepulauan rempah itu sebelum agama samawi (Islam ataupun Kristen) dikenal.  Diduga permainan yang disebut baramasewel ini, berasal dari tradisi dinamisme yang dianut masyarakat Maluku. Permainan ini berpusat pada sepotong bambu, yang uniknya diberi nama bambu suanggi (hantu). Panjangnya sekitar 4 meter, dipotong menjadi tujuh ruas, di mana tiap-tiap potongan ruasnya dipegang oleh seorang pemain. Selu

Corona Virus dari Wuhan hingga Zaman Kalathida dari Ranggawarsita

Gambar
Kehidupan manusia tak bisa dipisahkan dari bencana, sebagaimana tidak ada peradaban yang bebas dari wabah penyakit. Demikian pula tidak ada penyakit yang menjadi wabah dengan sendirinya, sama seperti bencana senantiasa merupakan resultan dari berbagai penyebab yang bergabung secara tak sengaja ( coincidence ) maupun terencana ( default ). Kita secara bersama-sama menyaksikan wabah corona virus dari Wuhan (2019-nCov) merebak sejak akhir Desember 2019 dan menyebabkan radang paru-paru (pneumonia) akut di Tiongkok dan telah berpindah ke lebih dari 16 negara hingga saat ini. Laporan berbagai sumber memastikan sekitar 7.700 orang terkonfirmasi terjangkiti penyakit ini (29/01/2020). Sebanyak 259 orang diantaranya meninggal. Angka itu menunjukkan 2019-nCov tingkat fatalitasnya rendah (3,3%).   Evakuasi pasien terinfeksi 2019-nCov di Hubei, Tiongkok (29/01/2020) Angka kematian ini di bawah tingkat fatalitas serangan virus serupa pada 2002-2004 yang diberi nama Severe Acute Respirator

Arca Ganesha di Karangkates: Pertarungan Kebijakan Pengetahuan dan Keliaran Manusia

Gambar
Inilah satu-satunya arca di Indonesia yang menggambarkan Ganesha  dalam posisi berdiri   dengan membawa banyak lambang Tantra Bhairawa yang merupakan aliran pemujaan keliaran manusia. Saya pertama kali bertemu arca Ganesha yang kontroversial ini    sekitar lima tahun silam, di tempatnya  bersemayam, yakni di belakang kompleks perumahan Bendungan Karangkates di Kabupaten Malang. Pertemuan itu terjadi pada suatu siang menjelang tengah hari, ketika surya bersinar terik, dan saya berdiri beberapa langkah di depan patung  yang menggambarkan putra dari Dewa Siwa dengan Dewi Parwati, dan  dipanggil “Mbah Gajah” oleh masyarakat setempat. Ada dua hal yang menarik perhatian saya. Pertama, Ganesha dipatungkan dalam keadaan berdiri, sementara sekian banyak penggambaran beliau, senantiasa digambarkan dalam keadaan duduk. Kedua, "Mbah Gajah" ini dipenuhi berbagai hiasan dari tengkorak manusia yang memberi kesan menakutkan. Arca Ganesha itu secara keseluruhan berasal dari dua batu be