Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Buyut Perempuan

Gambar
Angela Payër (meninggal 1915) dilahirkan di Pulau Haruku, beberapa kilometer dari Tulehu, Ambon. Pada tahun 1900 dia menikah dengan voorganger (guru Injil) bernama Yakobus Saptenno di Ambon. Dia menjadi isteri kedua, setelah isteri pertama dari guru Injil itu meninggal dalam bencana tsunami 1899 (Banjir Ambon). Dalam pernikahan ini dilahirkan beberapa anak, yakni: Augustinus Saptenno (Opa Agus), Anna Saptenno (Oma An), Yakobus Saptenno (Opa Yop), Johannes Saptenno (Opa Janus) dan Josephine Saptenno (Oma Yos). Foto ini tidak diketahui tanggalnya. Dari rahim Angela inilah, nenek saya (Josephine) dilahirkan 15 Juli 1914. Doa saya bagi mereka dalam istirahat yang damai.

Kupu-Kupu dan Sang Biksu

Gambar
Seorang biksu pulang dari mengumpulkan ranting-ranting pohon untuk kayu bakar dan dalam perjalanan pulang berjumpa seorang pemuda yang baru saja menangkap seekor kupu-kupu di genggaman tangannya. Pemuda ini berkata kepada biksu: “Biksu, bagaimana kalau kita bertaruh?”  “Bagaimana?” tanya biksu. "Coba tebak, apakah kupu-kupu dalam genggamanku ini hidup atau mati. Kalau kamu kalah, sepikul ranting itu jadi milikku!” jawab si pemuda. Sang biksu setuju, lalu menebak, “Kupu-kupu dalam genggamanmu itu mati.” Sang pemuda tertawa tergelak, “Biksu, salah!”  Dia membuka genggamnya dan kupu-kupu itu pun terbang pergi. Sang biksu berkata, “Baiklah, ranting ini milikmu.” Seusai itu dia menaruh pikulan kayu bakarnya dan pergi dengan gembira. Si pemuda TIDAK mengerti kenapa sang biksu begitu gembira, tapi mendapat sepikul ranting membuatnya riang dan dibawanya pulang. Di rumah, ayah pemuda itu bertanya soal asal muasal sepikul ranting itu. Si pemuda dengan bangga menceritakan kisah

Kehidupan di sebuah Pabrik Gula di Jawa Timur

Gambar
Ini sebuah foto yang menyentuh hati saya, karena memotret suatu peristiwa yang manusiawi. Dalam foto ini terekam sebuah gambaran kehidupan di pabrik gula pada masa lalu. Kehidupan yang saat itu "indah" bagi anak-anak kecil ini. Foto ini diambil di PG Kremboong di Porong, Jawa Timur, bertempat di halaman belakang rumah dinas no 13 dari pabrik tersebut. Foto ini diambil sekitar tahun 1950. Berdiri di belakang Leo Geyp, Robby Ingenluyf, Ita Geyp. Berlutut di depan adalah Luki Ingenluyf dan Ronald Frederick Tomasowa. Di sebelahnya terdapat Rosalind Saptenno, Jocelyn Arthur Tomasowa, Francien Herlen Tomasowa dan Joyce Nelly Tomasowa. Mereka adalah paman dan bibi saya. Staf PG Gempolkrep tahun 1960, pada foto ini tampak kakek saya, Jonathan Tomasowa (berdiri nomor 4 dari kiri) dan Oma Yosephine Saptenno (duduk nomor 4 dari kiri). PG Gempolkrep adalah salah satu pabrik gula yang dimiliki NV Kooy en Coster van Voorhout. Pabrik ini didirikan pada tanggal 5 januar

Kakek Saya

Gambar
Almarhum Jonathan Tomasowa (lahir di Ouw, Saparua, 15 April 1908). Sebagai anak tertua dari lima bersaudara, dia sudah ditempa kehidupan yang keras. Ayahnya, Augustinus Tomasowa, meninggal saat adiknya yang terkecil belum dapat berjalan. Ibunya, Herlen Leiwakabessy, membesarkan anak-anaknya seorang diri. Ibunya bekerja membuat peralatan rumah tangga dari gerabah (tanah liat). Dari ke empat ora ng adiknya, salah seorang (juga) bernama Augustinus Tomasowa (Opa Agus), lalu Daniel Tomasowa (Opa Daan), Petrosina Tomasowa (Oma Peto), Elizabeth Tomasowa (Oma Betsy) dan Selina Tomasowa (Oma Selina). Setelah adiknya (Opa Agus) meninggal, sekitar tahun 1950, dia menambahkan "Augustinus" pada namanya.  Pada usia 10 tahun dia dibawa oleh kakak tertua dari ibunya, Willem Leiwakabessy (Opa Bing) ke Jawa, bersama 3 orang sepupu lain (Frans, Petrus dan Adolf Leiwakabessy). Mereka tinggal di Krembangan, Surabaya. Opa Bing saat itu bekerja di rumah gadai. Sejak u

Cucu Terkecil Raja Myanmar Terakhir

Gambar
Untuk pertama kalinya setelah 76 tahun, cucu terkecil Thibaw, raja terakhir Myanmar, tampil depan umum di Yangoon. Putri Hteik Su Phaya Gyi (92 tahun) berbicara di depan Rotary Club akhir Maret 2016 silam.  Beliau mengulangi peristiwa serupa ketika berusia 16 tahun. Saat itu Inggris menjajah negeri tersebut dan usai menyampaikan pidato yang mengeluhkan korban jiwa dalam sebuah demonstrasi di ibukota Myanmar, beliau dipaksa kembali ke "tahanan rumah." Monarki Myanmar memang ta k banyak diketahui umum karena sekian lama disembunyikan dalam "kesunyian." Raja Thibaw dan keluarganya diasingkan ke India setelah armada Inggris menyerbu Mandalay pada 1885.  Pada 1919, tiga tahun setelah Thibaw meninggal, keluarganya diizinkan kembali ke Yangoon. Mereka tinggal di negeri itu namun tak boleh tampil di umum dan dibatasi perannya, semacam dikenai "tahanan rumah." Putri dengan keanggunan yang tergurat di wajahnya ini memang tak hadir dalam kemeriahan yang m

Bakso Khas Malang: Kudapan Resmi Republik

Banyak kudapan ringan yang dikenal di Indonesia. Namun, siapa warganegara Republik Indonesia yang belum pernah mendengar bakso? Bahkan, bakso akan menjadi salah satu suguhan bagi Presiden Amerika Serikat, Barack Obama jika beliau jadi bertandang ke Indonesia tahun 2010. Kendati isinya nyaris sama, daging bercampur tepung yang dibentuk bulat dan disiram kuah kaldu, bakso memiliki banyak variasi. Bakso versi Solo terdiri dari bola daging dibubuhi irisan sayur dan bihun. Sedangkan bakso khas Yogyakarta hanya terdiri dari irisan tipis tahu dan bakso goreng yang disajikan bersama mi dan bihun berkuah. Sebaliknya, irisan tahu dan bakso goreng ini tak ada di sajian bakso khas Wonogiri. Sedangkan bakso khas Sunda malah mencampurkan tauge dalam kuahnya. Di antara sedemikian banyak variasi, Kota Malang juga punya sajian khas bakso. Tidak ada yang dapat mengatakan sejak kapan bakso identik dengan kudapan khas Kota Malang. Selain ditambah variasi cacahan daging yang dibulatkan – disebut pe

Pecok: Perkawinan Bahasa Belanda dan Bahasa Indonesia

Bahasa Pecok  (juga dieja sebagai  Petjoh ) adalah sejenis bahasa campuran ( creole ) yang banyak digunakan oleh kalangan Eropa dan campuran Eropa-Indonesia pada zaman Hindia Belanda abad ke 19 sampai pertengahan abad ke 20. Bahasa Pecok sebenarnya merupakan campuran dari berbagai kosa kata Belanda yang mendapat pengaruh kuat dari bahasa Melayu dan Jawa. Penuturnya kebanyakan tinggal di Jawa pada masa lampau. Di Indonesia, zaman sekarang bahasa ini praktis sudah tidak dituturkan lagi.  Namun kadang-kadang masih ada yang mencoba menirukannya, khususnya pada drama-drama mengenang revolusi kemerdekaan – biasanya sebagai bahasa yang diucapkan para serdadu Belanda. “Hai jongos, lekas kassie aijer ke sini …” (Hai pelayan, cepat ambilkan air) atau “Kalo kowe tak bicara, geen ampoen meer …” (Kalau kamu tidak mengaku, tiada ampun lagi), atau “Je lach je kripoet …” (Kamu akan tertawa ‘sampai keriput’). Di luar itu, bahasa Belanda dapat dirasakan dalam berbagai kata serapan yang kem

Tidak Bicara Kejelekan, Tidak Dengar Keburukan, Tidak Melihat Kejahatan

Gambar
Tidak bicara kejelekan, tidak dengar keburukan, tidak melihat kejahatan. Peribahasa ini pertama kali digambarkan pada ukiran abad ke 17 Masehi di atas gerbang Kuil Tōshō-gū di Nikkō, Jepang.  Ukiran ini dikerjakan Hidaro Jingoro, dan dipercaya adalah bagian dari ajaran Konfusius tentang perilaku hidup baik, yang menggunakan monyet sebagai perumpamaan terdekat manusia.  Digambarkan, seekor monyet menutup mulutnya, seekor lain menutup kedua mata dan seekor lagi kedua telinganya. Foto ini dibuat pada awal abad ke 20 dengan tiga geisha memperagakan monyet dari ukiran Jinggoro. Sebuah ironi memang, namun pesannya tersampaikan.

Arie Smit: Sang Kakek Pelukis

Gambar
Rabu, 23 Maret 2016, Indonesia kehilangan salah seorang perupa terkenalnya. Adrianus Wilhelmus Smit, atau yang lazim dipanggil Arie Smit. Kakek yang lahir di Belanda, 15 April 1916 telah menjadi warga negara Indonesia sejak 1951.
 Karyanya sangat dikenal di pasaran lukisan duna.  Smit adalah perupa yang memberi warna pada perkembangan seni lukis modern di Bali. Lukisannya penuh warna: pura, sawah dan suasana upacara digambarkannya cerah ceria. Para kurator menyebut kakek ini bergaya Fauvisme, mengikuti aliran yang populer di Perancis sekitar tahun 1930-an. Lukisan "Pura di Taman" ini adalah salahsatu karya utama ( master piece ) Smit yang dilukis 1986.  Pendidikan melukis diperoleh Smit di Rotterdam. Dia masuk tentara pada 1938 dan dikirim ke Hindia Belanda sebagai penggambar peta. Pada 1942 dia ditempatkan di Malang dan semasa penjajahan Jepang menjadi pekerja paksa di Myanmar (Burma) membangun jalur kereta api "maut" yang makan ribuan jiwa. Setelah Per

Sibuk Belum Tentu Membawa Keberhasilan

Sibuk. Kata ini sering menjadi kebanggaan. Menjadi manusia (super) sibuk seolah-olah mengangkat status. Jika tidak sibuk, orang bisa khawatir dirinya dianggap tidak bekerja dengan baik. Kenyataannya, “sibuk” itu justru menurunkan produktifitas. Kondisi (super) sibuk bisa digambarkan telepon yang terus berdering, surat elektronik bertubi-tubi, jadual padat, perjalanan dinas terus menerus dan lain sebagainya. Situasi ini mengharuskan seseorang melakukan multitasking . Peneliti neurosains, David Meyer dari Michigan, Amerika Serikat, memublikasikan penelitiannya yang menunjukkan, “Orang yang melakukan multitasking memperlambat kinerja dan meningkatkan kemungkinan kesalahan.” Melakukan beberapa hal sekaligus mempengaruhi kemampuan memutuskan sesuatu oleh karena otak kita dirancang memroses sesuatu secara terbatas dan fokus. Microsoft Inc. meneliti fenomena multitasking pada karyawannya. Mereka menemukan, rerata karyawan memerlukan 15 menit untuk kembali mengerjakan tugas